Keren...! Limbah Batang Sawit Bisa Jadi Kertas Pendeteksi Kesegaran Makanan, Karya Dosen & Mahasiswa ITERA - SAWIT BEBAS

Sabtu, 23 April 2022

Keren...! Limbah Batang Sawit Bisa Jadi Kertas Pendeteksi Kesegaran Makanan, Karya Dosen & Mahasiswa ITERA

Dosen dan Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Manfaatkan Limbah Batang Klepa Sawit Sawit Jadi Kertas Pendeteksi Kesegaran Makanan (Foto Ilustasi Batang Kelapa Sawit)

Haisawit - Melimpahnya batang sawit di Indonesia namun belum termanfaatkan secara maksimal dan jumlah batang sawit yang melimpah tersebut umumnya teronggok menjadi limbah. Inilah menjadi latarbelakang Dosen Program Studi Kimia Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Dr. I Putu Mahendra, S.Si., bersama tim Cellulose Carbon Material (CCM) yang terdiri dari beberapa mahasiswa, memanfaatkan limbah batang kelapa sawit menjadi indikator cerdas berupa kertas yang dapat mengecek kesegaran makanan.

Pengembangan film atau kertas indikator yang ditempel di dalam kemasan produk pangan diharapkan dapat membantu konsumen untuk menentukan tingkat kesegaran produk pangan secara visual. Dengan adanya hasil penelitian ini, konsumen dapat mengetahui kesegaran pangan termasuk produk pangan dalam kemasan yang semula sulit diketahui secara langsung ataupun visual.

Dr. I Putu Mahendra: Limbah kelapa sawit yang digunakan pada dasarnya tidak ada kriteria tertentu. Semua bagian tanaman kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber lignoselulosa.

Dr. I Putu Mahendra, menyebut batang sawit memiliki banyak komponen kimia, salah satunya adalah selulosa dan lignin, yang sering disebut lignoselulosa. Selulosa ataupun lignoselulosa memiliki banyak manfaat untuk kehidupan, yang paling mudah dijumpai adalah dimanfaatkan sebagai kertas. Tidak hanya kertas, selulosa dapat dimanfaatkan sebagai bahan tekstil hingga medis, tentunya dengan modifikasi tertentu.

“Penggunaan label tanggal di produk makanan belum tentu akurat karena produk pangan mengalami perpindahan tempat sesuai dengan alur distribusi. Hal ini menyebabkan penurunan kesegaran produk pangan dapat terjadi lebih cepat.” kata Dr. I Putu Mahendra, dilansir dari laman resmi ITERA (5/4). 

Proses Pengembangan Limbah Batang Sawit Jadi Kertas Pendeteksi Kesegaran Makanan

Dalam proses pengolahannya mula-mula limbah batang sawit  dipotong dan dikeringkan. Limbah batang sawit yang digunakan umumnya adalah 100 g untuk sekali pengerjaan. Lignoselulosa yang diperoleh dari pengolahan tersebut umumnya +/- 35 g.

Batang sawit yang telah kering dilanjutkan dengan proses penggilingan hingga diperoleh sediaan serbuk. Terdapat beberapa proses yang dilakukan hingga dapat diperoleh lignoselulosa, diantaranya adalah alkalisasi dan pemutihan serat. Selulosa yang diperoleh selanjutnya dilakukan modifikasi secara kimia melalui proses oksidasi menggunakan bahan kimia bernama Tempo. Tahapan penelitian selanjutan, tim ITERA bekerjasama dengan rekan di Universitat de Girona untuk memperoleh sediaan nano serat lignoselulosa dalam bentuk gel.

Sediaan gel yang diperoleh selanjutnya dikombinasikan dengan pewarna alam, dalam hal ini adalah ekstrak kubis ungu. Kubis ungu dipilih karena antosianin yang terdapat di dalam kubis ungu memiliki potensi untuk mendeteksi perubahan pH, asam dan basa. Campuran antara gel dan ekstrak kubis ungu selanjutnya dicetak menjadi film menyerupai kertas, dan disimpan dalam kemasan tertutup. Film inilah yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kesegaran sebuah makanan, baik itu daging, buah, dan lainnya. Penelitian tersebut dilakukan selama 4-5 bulan di Laboratorium Teknik 3 ITERA. Beberapa pekerjaan juga dilakukan di Universitat de Girona, Spanyol.

Dosen ITERA Manfaatkan Limbah Batang Sawit Jadi Kertas Pendeteksi Kesegaran Makanan

Sebagai informasi, Presiden Republik Indonesia melalui Peraturan Presiden 6 Oktober 2014 meresmikan ITERA yang ada di Kabupaten Lampung Selatan. Pendirian ITERA mendapatkan dibinaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam jangka waktu tertentu dengan kualitas minimal setara dengan ITB. 

Saat ini ITERAmemiliki 35 Program Studi dari 3 jurusan yang ada, yaitu Jurusan Sains, Jurusan Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan, dan Jurusan Teknologi Produksi dan Industri.


Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments