Replanting adalah Penggantian suatu jenis tanaman perkebunan kelapa sawit yang disebabkan oleh
tanaman sudah tua atau tidak produktif. Berikut syarat-syarat tanaman yang perlu direplanting :
e. Kesulitan pemanen saat melakukan panen buah Pekerjaan replanting memerlukan tahapan dan metode yang tepat agar hasil replanting sesuai
dengan Standar Perkebunan Pada Umumnya yang nanti-nya diperoleh Produksi yang Maksimal.
Berikut Tahapan pekerjaan repalnting di Perkebunan Kelapa Sawit :
A. REDESIGN BLOK & PENYUSUNAN TIME LINE
Redesign blok bertujuan untuk memperbaiki dan memaksimalkan pemanfaatan lahan serta
design jalan sesuai kebutuhan. Redesign blok ini juga untuk memperoleh SPH (Stand Per Ha)
yang maksimal dan penaataan areal yang sesuai Standar Teknis Perkebunan pada umumnya.
Penentuan SPH sangat menentukan jarak antar tanaman dan jarak antar baris. Selain itu,
penentuan SPH juga berdasarkan Benih atau progeny yang akan digunakan.
Sebelum dilakukan replanting perlu dilakukan sensus tanaman untuk memastikan jumlah
tanaman atau mengetahui SPH dan juga untuk mengetahui tanaman yang terserang
Ganoderma yang nantinya ada perlakukan khusus untuk tanaman tersebut. Pekerjaan sensus
pokok memerlukan waktu sekitar 1 bulan (rata-rata dalam satu kebun, jika menggunakan
tenaga manusia). Dengan luasan Kebun > 10.000 Ha dilakukan improvement untuk
mempercepat pekerjaan ini dan efisien secara biaya. Adaptasi dengan perkembangan teknologi
digital era 4.0 saat ini maka diimplementasikan dengan digital sensus pokok melalui foto udara
B. REPLANTING TANAMAN KELAPA SAWIT
Repanting kelapa sawit harus dilakukan Zero Burning. Ada 3 metode Replanting di Perkebunan
Kelapa Sawit yaitu :
1. Metode Tumbang – Chipping – Rumpuk
Metode replanting dengan tumbang, chipping dan rumpuk memiliki kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan replanting metode merumpuk hasil chipping adalah pekerjaan lebih
cepat, produktivitas / output tinggi, dan biaya terjangkau (sedang). Kelemahan replanting
metode merumpuk adalah hasil chipping berada di permukaan yang beresiko tinggi
terserangnya hama Oryctes dan timbulyya biaya pengendalian Oryctes, menyisakan bekas
bonggol yang memerlukan biaya lebih esktra untuk menutupi lobang, terbatasnya akses ke
dalam pokok, dan pengendalian gulma cukup sulit terutama bekas rumpukan.
Metode Replanting Tumbang, chipping & rumpuk memiliki output 14 pokok/hm dan 9.3
HM/Ha sehingga rata-rata biaya replanting sebesar Rp. 6.000.000 – Rp. 6.500.000 (asumsi
Rp. 650.000/Hm). Berikut urutan replanting dengan metode Tumbang, chipping dan
rumpuk :
- Pancang Stacking
Menyiapkan pancang kepala untuk menetapkan posisi rumpukan/stacking dengan
menggunakan pancang kepala sesuai jarak tanam (baru). Tinggi Pancang 2 mtr dan
diberi warna merah atau putih. Lebar rumpukan 5 mtr dan tinggi 2 mtr, setiap 7 mtr
dibuat jalan supervise selebar 2 mtr.
- Tumbang Pokok
Melakukan penumbangan dengan menggunakan excavator PC 200 yang telah dipasang
blade chiiping. Arah penumbangan searah dengan jalur tanam baru dan dipastikan pada
saat alat melakukan penumbangan tidak ada pekerja disekitar pokok akan ditumbang.
- Chipping – Rumpuk
Pencacahan atau chipping dengan ketebalan maksimal 15 cm dan sudut potongan 450
-
600
. Chipping dimulai dari sisi bonggol kelapa sawit dan chpping memotong pelepah
menjadi 2. Hasil Chipping dirumpuk pada pancang stacking dilapangan dengan lebar
stacking maksimal 5 mtr dan tinggi stackingan 1 - 1.5 mtr.
- Penggalian Bekas Bonggol
Pembongkaran bekas bonggol bertujuan untuk memastikan mata rantai dan sumber
infeksi ganoderma terputus. Akar bekas pokok kelapa sawit digali dengan spesifikasi
panjang 1 mtr, lebar 1 mtr dan dalam 1 mtr.
- Normalisasi Areal Rendahan
Normalisasi areal rendahan dengan menggunakan alat berat Excavator PC 200 untuk
melakukan pembuangan air di area rendahan dan pembentukan parit baru untuk
memaksimalkan areal tanam.
2. Metode Tumbang – Chipping – Serak
Metode replanting dengan tumbang, chipping dan serak memiliki kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan replanting metode merumpuk adalah pekerjaan lebih cepat, produktivitas /
output tinggi, dan biaya murah. Kelebihan replanting metode Serak adalah hasil chipping
berada di permukaan yang beresiko tinggi terserangnya hama Oryctes dan munculnya biaya
pengendalian Orycets, menyisakan bekas bonggol yang memerlukan biaya ekstra untuk
menutupi lobang, akses ke pokok sangat sulit, dan pengendalian gulma sangat sulit yang
memerlukan biaya tinggi.
Metode Replanting Tumbang, chipping & Serak memiliki output 16 pokok/HM dan 8.1
HM/Ha sehingga rata-rata biaya replanting sebesar Rp. 5.000.000 – Rp. 5.500.000 (asumsi
Rp. 650.000/Hm). Berikut urutan replanting dengan metode Tumbang, chipping dan serak :
- Tumbang Pokok
Melakukan penumbangan dengan menggunakan excavator PC 200 yang telah dipasang
blade chiiping. Arah penumbangan searah dengan jalur tanam baru dan dipastikan
disaat alat melakukan penumbangan tidak ada pekerja disekitar pokok akan
ditumbang.
- Chipping – Serak
Pencacahan atau chipping dengan ketebalan maksimal 15 cm dan sudut potongan 450
-
600
. Chipping dimulai dari sisi bonggol kelapa sawit dan chpping memotong pelepah
menjadi 2. Hasil chipping diserak di lapangan dan posisi hasil chipping tidak berlapis
atau tersebar merata
- Penggalian Bekas Bonggol
Pembongkaran bekas bonggol bertujuan untuk memastikan mata rantai dan sumber
infeksi Ganoderma terputus. Akar bekas pokok kelapa sawit digali dengan spesifikasi
panjang 1 mtr, lebar 1 mtr dan dalam 0.7 mtr.
- Normalisasi Areal Rendahan
Normalisasi areal rendahan dengan menggunakan alat berat Excavator PC 200 untuk
melakukan pembuangan air di area rendahan dan pembentukan parit baru untuk
memaksimalkan areal tanam.
3. Metode Replanting Burial System
Replanting Burial System merupakan metode dengan mengubur semua bekas tanaman
lama ke dalam lubang galian sehingga proses dekomposisi terjadi di dalam tanah. Kelebihan
System Burial ini adalah hilangnya breeding site hama penggerek daun yaitu Oryctes
rhinoceros, Menjaga kondisi porositas tanah dan tidak menyisakan lobang bekas bonggol
tanaman lama, mempermudah akses ke setiap pokok tanaman karena tidak terhalang oleh
bekas rumpukan dan pengendalian gulma lebih mudah dan terkontrol dengan baik.
Kelemahan atau kekuragan System Burial adalah biaya replanting lebih mahal dan
pengerjaan membutuhkan standar input alat berat lebih besar.
Replanting dengan system Burial memiliki output 48 HM/Ha sehingga rata-rata biaya
replanting system burial sebesar Rp. 25.500.000 – Rp. 25.500.000 (Asumsi biaya HM Rp.
550.000 – Rp. 600.000). Berikut urutan replanting dengan metode Burial System :
- Pancang Jalur Lubang
Menyiapkan pancang kepala untuk menetapkan posisi lubang Pancang setinggi 2 mtr
dan diberi warna merah atau putih. Pembuatan lubang dengan ukuran Lebar 3 – 4 mtr
dan kedalaman 2 - 2.5 mtr
- Penggalian Lubang
Penggalian lubang sepanjang 250 meter arah utara selatan dengan menggunakan
excavator PC 200 + bucket. Tanah galian di letakkan di sisi kiri dan kanan lubang dengan
rapi
- Penumbangan pokok & Penutupan Lubang
Pokok di tumbang dan dipotong 3, selanjutnya dimasukkan ke dalam lubang galian.
Lubang galian ditutup menggunakan tanah bekas galian dan dipadatkan
C. PEMANCANGAN TITIK TANAM
Penentuan titik tanam dengan menggunakan kayu pancang tinggi 1 - 1,5 mtr. Penentuan SPH
(Stand Per Ha) sebagai salah satu faktor dalam menentukan jarak tanam dan jarak antar baris.
Setiap titik tanam harus dipancang
D. PEMBUATAN LOBANG TANAMAN
Kegiatan replanting dalam jumlah luasan yang besar setiap tahunnya berdampak pada
kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah banyak tetapi bersifat temporary. Hal ini menjadi
tantangan untuk improvement mekanisasi, salah satunya pekerjaan pembuatan lobang tanam
dengan menggunakan FT + PHD, inovasi ini sangat berdampak dengan percepatan target
replanting. Dari sisi biaya, pembuatan lobang menggunakan Tractor+PHD sangat efisien
dibandingkan dengan menggunakan tenaga kerja manual. Faktor lain adalah kesulitan untuk
mencari tenaga kerja untuk menyelesaikan target tanam dengan luasan yang besar termasuk
kesulitan melakukan supervisi pekerjaan. Dengan mekanisasi ini standard ukuran dan kualitas
lobang akan lebih homogen.
E. PENANAMAN LEGUME COVER CROP
Penanaman LCC/ kacangan mempergunakan jenis Mucuna Bracteate (MB) dengan kerapatan
420-480 polybag/Ha. Teknis penanaman MB, sebelumnya MB dibenihkan ke dlaam polybag
kecil selama 4-6 minggu kemudoan baru dipindahkan ke lapangan. Disaat penanaman diberikan
pupuk RP 40 gr/pk yang ditabur secara merata. Sebelum dilakukan penanaman kacangan ke
lapangan, terlebih dahulu dilakukan pengendalian gulma dilapangan dan kacangan dirawat
setiap 2 minggu sekali selama 3 bulan pertama.
F. PENANAMAN KELAPA SAWIT
- Distribusi Bibit
Penerimaan bibit adalah kegiatan penerimaan bibit yang berasal dari pembibitan untuk
selanjutnya ditanam di areal. Distribusi bibit adalah suatau kegiatan mendistribusikan bibit
kelapa sawit dari jalan ke titik tanam dalam areal
- Pupuk Lubang
Pemupukan lubang tanam adalah kegiatan pemberian pupuk dasar pada lubang tanam dan
tanah galian lubang sebelum tanam bibit kelapa sawit. Contoh pupuk yang digunakan RP
dan NPK
- Penanaman Kelapa Sawit
Menanam adalah suatu kegiatan menanam bibit kelapa sawit pada lubang tanam yang telah
tersedia sesuai dengan standard agronomis. Konsolidasi adalah merupakan kegiatan untuk
memperbaiki posisi tanaman kelapa sawit yang kurang baik (miring/condong, terlalu
dalam/dangkal).