SAWIT BEBAS: ITERA
Tampilkan postingan dengan label ITERA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ITERA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2022

Keren...! Ini Dia Mobil Desa Berbahan Bakar Minyak Sawit Murni Ciptaan ITERA

CEPOV ITERA Mobil Desa Berbahan Bakar Minyak Kelapa Sawit Murni Ciptaan ITERA. CEPOV ITERA terlihat dari samping (Foto: YouTube ITERA).

Haisawit - Institut Teknologi Sumatera (ITERA) resmi luncurkan Mobil Desa Berbahan Bakar Minyak Sawit Murni. Proses perakitan Mobil Desa ini sudah dimulai sejak November 2021 dan diberi nama dengan CEPOV ITERA-1 (Combustion Engine Palm Oil Vehicle atau CEPOV ITERA 1).

Seperti yang dirilis ITERA di laman resminya, perakitan CEPOV ITERA-1 atas kerja sama antara ITERA dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dimotori oleh tim dosen Teknik Mesin ITERA yang terdiri dari Rico Aditia Prahmana, M.Sc sebagai ketua tim, Lathifa Putri Afisna, M.Eng, T.M. Indra Riayatsyah, M.Eng,Sc, Achmad Gusfahmi, M.Si, dan Hadi Teguh Yudistira, Ph.D. Sementara dari dosen ITB didukung oleh Dr. Eng. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardojo (FTMD ITB) dan Dr. Ir. Tirto Prakoso, S.T, M.Eng. (FTI – ITB).

Pelucuran Mobil CEPOV ITERA-1 bersamaan dengan Sidang Terbuka Wisuda ke-10 ITERA, Sabtu, 26 Maret 2022. Rektor ITERA Prof. Dr.-ing. Drs. Ir. Mitra Djamal IPU., secara resmi meluncurkan karya ITERA tersebut, dengan simbolis pemotongan pita dan mengendarai CEPOV ITERA-1 di hadapan para wisudawan dan tamu undangan.

"Mobil desa ramah lingkungan karya ITERA ini, menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat pedesaan yang kesulitan mengakses bahan bakar seperti solar atau bensin karena akses desa yang sulit dan minimnya pasokan bahan bakar,” ujar Rektor ITERA, seperti yang dimuat dalam laman resmi ITERA.

Mobil Desa CEPOV ITERA-1 sebagai jawaban atas adanya kebutuhan transportasi desa yang ramah lingkungan dengan bahan bakar yang mudah diakses. Mobil ini dibuat atas gagasan Rektor ITERA Prof. Dr.-Ing. Drs. Ir. Mitra Djamal, IPU., dan Staf Ahli Rektor ITERA Bidang Pengembangan dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Deny Juanda Puradimaja, DEA., ini memanfaatkan minyak nabati sebagai bahan bakar untuk menggantikan bahan bakar fosil.

CEPOV ITERA 1 diklaim 1 Liter minyak sawit mentah atau CPO dapat menghasilkan sebanyak 800 mL atau 80% minyak sawit murni atau PPO serta dapat menempuh jarak sejauh 10 km dalam setiap 1 liter bahan bakar minyak sawit murni yang digunakan.

Dalam proses produksinya, minyak sawit murni yang dijadikan bahan bakar tidak harus melalui konversi menjadi biodesel, sehingga dapat menghemat biaya produksi. Pembuatan bahan bakar minyak sawit murni dilakukan melalui proses pengepresan biji sawit dan pemurnian berupa proses degumming untuk menghilangakn getah fosfolipid dan zat lain yang terbawa saat pengepresan. Berdasarkan perlakuan di laboratorium, 1 Liter minyak sawit mentah atau CPO dapat menghasilkan sebanyak 800 mL atau 80% minyak sawit murni atau PPO.

Ketua Tim Pembuat CEPOV ITERA-1, Rico Aditia Prahmana, M.Sc., menyampaikan, CEPOV ITERA-1 memiliki keistimiewaan dalam pemanfaatan minyak sawit nurni sebagai bahan bakar. Berdasarkan hasil uji Laboratorium Konversi Energi ITERA, mobil CEPOV ITERA-1 dapat menempuh jarak sejauh 10 km dalam setiap 1 liter bahan bakar minyak sawit murni yang digunakan.

Peluncuran Mobil Desa Berbahan Bakar Minyak Sawit Murni oleh Institut Teknologi Sumatera (Sumber Foto: itera.ac.id)

Sebagai informasi, Presiden Republik Indonesia melalui Peraturan Presiden 6 Oktober 2014 meresmikan ITERA yang ada di Kabupaten Lampung Selatan. Pendirian ITERA mendapatkan dibinaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam jangka waktu tertentu dengan kualitas minimal setara dengan ITB. 

Saat ini ITERAmemiliki 35 Program Studi dari 3 jurusan yang ada, yaitu Jurusan Sains, Jurusan Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan, dan Jurusan Teknologi Produksi dan Industri.

Sabtu, 23 April 2022

Keren...! Limbah Batang Sawit Bisa Jadi Kertas Pendeteksi Kesegaran Makanan, Karya Dosen & Mahasiswa ITERA

Dosen dan Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Manfaatkan Limbah Batang Klepa Sawit Sawit Jadi Kertas Pendeteksi Kesegaran Makanan (Foto Ilustasi Batang Kelapa Sawit)

Haisawit - Melimpahnya batang sawit di Indonesia namun belum termanfaatkan secara maksimal dan jumlah batang sawit yang melimpah tersebut umumnya teronggok menjadi limbah. Inilah menjadi latarbelakang Dosen Program Studi Kimia Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Dr. I Putu Mahendra, S.Si., bersama tim Cellulose Carbon Material (CCM) yang terdiri dari beberapa mahasiswa, memanfaatkan limbah batang kelapa sawit menjadi indikator cerdas berupa kertas yang dapat mengecek kesegaran makanan.

Pengembangan film atau kertas indikator yang ditempel di dalam kemasan produk pangan diharapkan dapat membantu konsumen untuk menentukan tingkat kesegaran produk pangan secara visual. Dengan adanya hasil penelitian ini, konsumen dapat mengetahui kesegaran pangan termasuk produk pangan dalam kemasan yang semula sulit diketahui secara langsung ataupun visual.

Dr. I Putu Mahendra: Limbah kelapa sawit yang digunakan pada dasarnya tidak ada kriteria tertentu. Semua bagian tanaman kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber lignoselulosa.

Dr. I Putu Mahendra, menyebut batang sawit memiliki banyak komponen kimia, salah satunya adalah selulosa dan lignin, yang sering disebut lignoselulosa. Selulosa ataupun lignoselulosa memiliki banyak manfaat untuk kehidupan, yang paling mudah dijumpai adalah dimanfaatkan sebagai kertas. Tidak hanya kertas, selulosa dapat dimanfaatkan sebagai bahan tekstil hingga medis, tentunya dengan modifikasi tertentu.

“Penggunaan label tanggal di produk makanan belum tentu akurat karena produk pangan mengalami perpindahan tempat sesuai dengan alur distribusi. Hal ini menyebabkan penurunan kesegaran produk pangan dapat terjadi lebih cepat.” kata Dr. I Putu Mahendra, dilansir dari laman resmi ITERA (5/4). 

Proses Pengembangan Limbah Batang Sawit Jadi Kertas Pendeteksi Kesegaran Makanan

Dalam proses pengolahannya mula-mula limbah batang sawit  dipotong dan dikeringkan. Limbah batang sawit yang digunakan umumnya adalah 100 g untuk sekali pengerjaan. Lignoselulosa yang diperoleh dari pengolahan tersebut umumnya +/- 35 g.

Batang sawit yang telah kering dilanjutkan dengan proses penggilingan hingga diperoleh sediaan serbuk. Terdapat beberapa proses yang dilakukan hingga dapat diperoleh lignoselulosa, diantaranya adalah alkalisasi dan pemutihan serat. Selulosa yang diperoleh selanjutnya dilakukan modifikasi secara kimia melalui proses oksidasi menggunakan bahan kimia bernama Tempo. Tahapan penelitian selanjutan, tim ITERA bekerjasama dengan rekan di Universitat de Girona untuk memperoleh sediaan nano serat lignoselulosa dalam bentuk gel.

Sediaan gel yang diperoleh selanjutnya dikombinasikan dengan pewarna alam, dalam hal ini adalah ekstrak kubis ungu. Kubis ungu dipilih karena antosianin yang terdapat di dalam kubis ungu memiliki potensi untuk mendeteksi perubahan pH, asam dan basa. Campuran antara gel dan ekstrak kubis ungu selanjutnya dicetak menjadi film menyerupai kertas, dan disimpan dalam kemasan tertutup. Film inilah yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kesegaran sebuah makanan, baik itu daging, buah, dan lainnya. Penelitian tersebut dilakukan selama 4-5 bulan di Laboratorium Teknik 3 ITERA. Beberapa pekerjaan juga dilakukan di Universitat de Girona, Spanyol.

Dosen ITERA Manfaatkan Limbah Batang Sawit Jadi Kertas Pendeteksi Kesegaran Makanan

Sebagai informasi, Presiden Republik Indonesia melalui Peraturan Presiden 6 Oktober 2014 meresmikan ITERA yang ada di Kabupaten Lampung Selatan. Pendirian ITERA mendapatkan dibinaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam jangka waktu tertentu dengan kualitas minimal setara dengan ITB. 

Saat ini ITERAmemiliki 35 Program Studi dari 3 jurusan yang ada, yaitu Jurusan Sains, Jurusan Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan, dan Jurusan Teknologi Produksi dan Industri.


Pendidikan

Seminar

Perusahaan Kelapa Sawit