Haisawit Medianet - Pemakaian calcium carbonate yang tidak cermat akanmemberikan dampak kerugian bagi perusahaan, baik berupa kehilangan kernel (kernel losses), maupun kotoran kernel (kernel impurities). Kernel losses yang tinggi akan menyebabkan berkurangnya rendemen kernel, sedangkan kernel impurities yang tinggi akan menurunkan kualitas kernel (Naibaho, 1998).
Calcium carbonate merupakan salah satu material yang pergerakannya cepat (fast moving), sehingga pengelolaannya harus sangat diperhatikan (Indrajit & Djokopranoto, 2003; Ristono, 2014; Rangkuti, 2015). Peramalan kebutuhannya juga harus dilakukan secara cermat. Walaupun bahan kimia ini bukan merupakan bahan baku di PKS, namun jumlah pemakaiannya cukup tinggi, jika dibandingkan material lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan peramalan kebutuhan bahan kimia tersebutdan penentuan sistem pengendalian persediaannya (Gasperzs, 2004).
Jurnal salah satu sumber informasi penting yang pada umumnya berisi sejumlah referensi yang menjadi rujukan penulisan tiap artikel. Tulisan ini bertujuan untuk menjadi jalan rujukan bagi para mahasiswa, akademisi, dan siapapun yang mencari referensi jurnal dibidang kelapa sawit.
Kali ini Haisawit mengangkat Jurnal berbasis Kelapa Sawit dengan Judul "Pengendalian Throughput Pabrik Kelapa Sawit Menggunakan Individual Moving Range (I-MR) Chart," ditulis oleh M. Hudori dosen Program Studi Manajemen Logistik Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi.
Abstrak pada jurnal ini, disebutkan bahwa peneitian ini membahas tentang pengendalian throughput di sebuah pabrikkelapa sawit (PKS). Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi throughput PKS tersebut dan bagaimana kerugian yang dialami oleh perusahaan dengan kondisi tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode individual movingrange (I-MR) Chart. Pengujian dilakukan terlebih dahulu dengan MR-Chart, danakan dilakukan revisi apabila terdapat kondisi out-of-control. Selanjutnya akandilakukan pengujian kondisi throughput dengan x-Chart. Apabila terjadi kondisi out-of-control, maka akan dilakukan pengukuran kapabilitas proses (C p).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa PKS yang diteliti memiliki kondisi throughput yang buruk. Untuk membuat kondisi yang ada terkesan baik ataupun sangat baik, maka dibutuhkan toleransi yang berada di luar batas kewajaran. Kondisi tersebut mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi perusahaan karena harus mengeluarkan biaya operasional karena adanya jam operasional tambahan yang seharusnya tidak perlu terjadi, padahal tidak ada TBS yang diolah selama jam tambahan tersebut.
Tertarik dengan Jurnal ini? Kamu bisa download disini, Download Jurnal: Pengendalian Throughput Pabrik Kelapa Sawit Menggunakan Individual Moving Range (I-MR) Chart.
